ADA kesan kuat, baik guru, orangtua, maupun murid, selalu didorong untuk mengejar dan menghimpun informasi keilmuan sebanyak mungkin, namun melupakan aspek pendidikan yang fundamental, yaitu bagaimana menjalani hidup dengan terhormat. Salah satu penyebab merebaknya korupsi ialah gagalnya dunia pendidikan dalam pembentukan karakter agar hidup selalu dipandu nurani.
Pagi-pagi, seorang ibu dan anaknya dengan wajah tegang menuju rumah seorang aparat pemerintah. Pertemuan itu tak l ebih dari 10 menit. Ibu dan anak pamit, dan pulang dengan wajah ceria. Keceriaan disampaikan kepada ayahnya melalui telepon. Apa yang terjadi?
Rupanya ibu dan anak itu berhasil memperoleh bocoran soal ujian setelah membayar sejumlah uang. Apa yang signifikan dari peristiwa ini? Jika peristiwa itu direnungkan, suatu hal amat jelas. Orangtua telah menanamkan virus kehidupan kepada anak bahwa sukses bisa dibeli dengan uang,dengan menyogok,dan semua itu seolah sah-sah saja. Peristiwa itu juga menggoreskan catatan seumur hidup di hati anak. Pagi itu, orangtua telah merobohkan prinsip kejujuran. Akibatnya, jika suatu saat orang atau guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran, anak akan menilai semua itu bisa ditawar. Singkatnya , secara moral orangtua tidak lagi punya wibawa untuk mengajarkan kejujuran dimata anaknya.
Belum lama ini saya dibuat tercenung membaca Pojok Kompas (15/1). Tertulis: "Kelulusan 322 calon PNS di Departemen Agama dibatalkan sebab yang bersangkutan tak ikut tes".Dilingkungan Depag, juga di departemen lain, kecurangan seperti ini bukan hal baru. Namun saat korupsi terjadi di Depag, Implikasi moral politiknya lebih besar karena bisa mengarah pada logika bahwa Depag yang mestinya berperan sebagai "sapu yang bersih" telah terseret dan menyatu bersama sampah yang hendak dibersihkan.
Pendidikan berbasis karakter
Pendidikan adalah usaha sistematis dengan penuh kasih untuk membangun peradaban bangsa. Di balik sukses ekonomi dan teknologi yang ditunjukkan negara-negara maju, semua itu semula disemangati nilai - nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani lebih mudah , lebih produktif, dan lebih bermakna. Namun banyak masyarakat yang lalu gagal menjaga komitmen kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech,Low-Touch.Yaitu gaya hidup yang selalu mengejar sukses materi,tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam. Akibatnya, orang lalu menitipkan harga dirinya pada jabatan dan materi yang menempel, tetapi kepribadiannya keropos.
Seseorang merasa diri hebat dan berharga bukan karena kualitas pribadinya,tetapi jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara tidak terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented,bukan being oriented,pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral.
Ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, maka yang akan dihasilkan adalah orang yang selalu mengejar materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness yang durasinya hanya sesaat dan potensial membunuh nalar sehat dan nurani. Padahal, aktualisasi nilai kemanusiaan membutuhkan perjuangan hidup sehingga seseorang akan merasa lebih berharga dan bahagia saat mampu meraih kebahagiaan nonmateri, yaitu intellectual happiness, aesthetical happiness, moral happiness , dan spiritual happiness. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan,menghayati,dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai yang moral, estetikal, dan spiritual. Peradaban dunia selalu dibangun oleh tokoh-tokoh moral -spiritual, yang dihancurkan politisi dan teknokrat yang mabuk kekuasaan.
Selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai entitas yang hidup.
Sebenarnya tak ada benda mati dihadapan orang yang akal budinya hidup. Terlebih di hadapan Tuhan, semuanya hidup dan bekerja atas perintah-Nya karena tercipta bukan tanpa tujuan. Pendidikan kita kurang mengajarkan bagaimana bersahabat dan berdialog dengan kehidupan secara menyeluruh.
Sebuah kasus menarik saat bencana tsunami di Aceh, hampir tidak ditemukan bangkai sapi atau kerbau dan hewan lain karena semuanya telah menyelamatkan diri. Hewan-hewan itu memiliki kepekaan dan mampu berdialog dengan sesama penghuni bumi saat bahaya akan datang. Kalaupun ada yang mati, itu lebih dikarenakan hewan-hewan itu kurang makan atau terjebak di kandang.
Belajar dan mengajar dengan hati
Seiring munculnya kesadaran dan tuntutan moral dalam dunia bisnis, dalam dunia pendidikan juga muncul gerakan baru untuk melibatkan emosi dan nurani dalam proses pembelajaran. Dipopulerkan oleh Danah Zohar, Ian Marshall,dan Daniel Golleman, literatur seputar betapa vitalnya dimensi spiritual dan emosional dalam kerja dan belajar kian diapresiasi kalangan eksekutif muda dan praktisi pendidikan. Misalnya, Training ESQ-Leadership yang dimotori Ary Ginanjar mendapat sambutan masyarakat.
Pelatihan ini menghasilkan lebih dari 50.000 alumni, tersebar di seluruh perusahaan di Indonesia, dan tiap bulan bertambah sedikitnya 7.000.Bahkan training ini telah masuk kurikulum SESKOAD Bandung. Fenomena ini tentu amat menggembirakan, sebuah kebangkitan kesadaran etis dan spiritual dalam upaya membangun bangsa yang bermartabat serta mendorong lahirnya generasi baru yang setia dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan.
Ada beberapa buku yang sebaiknya dibaca para guru, misalnya karya-karya Eric Jensen, Thomas Armstrong, dan Dave Meier soal bagaimana menciptakan proses dan suasana pembelajaran dengan mengacu pada sifat otak dan emosi (brain based learning) sehingga suasana belajar menjadi nyaman, kreatif, dan kontemplatif. Pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subyek, di mana anak-anak itu memiliki nurani dan potensi multikecerdasan, namun belum tergali dan teraktualisasi. Dengan demikian,proses pembelajaransebaiknya dimulai dengan melihat,mengamati,dan merasakan lingkungan sosial yang dihadapi, guru dan murid berempati menjadi bagian integral dari realitas sosial dan semesta. Dari situ keilmuan dibangun untuk membantu memecahkan problem kemanusiaan.
Semua ilmu pengetahuan awalnya adalah produk kegelisahan akal budi dan nurani guna meringankan beban hidup manusia. Celakanya, banyak kaum profesional dan birokrat yang dengan ilmu dan jabatannya malah menjadi penindas rakyat. Rakyat amat merindukan pemimpin, birokrat, dan pelaku pasar yang senantiasa mempertahankan prinsip hidup terhormat, hidup yang dipimpin suara hati, meski bisa jadi harus siap hidup sederhana. Itu semua harus dimulai dari pendidikan keluarga dan sekolah yang menjunjung tinggi pendidikan karakter.
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/03/opini/1538957.htm
Selamat Datang
Kamis, 18 Maret 2010
Jumat, 26 Februari 2010
ISTRI PERTAMA
Istri Pertama
Sumber: Kumpulan Artikel #ukhuwah
“Suatu Kisah Menarik yang penuh hikmah tentang Pedagang Kaya dengan empat Orang Istrinya”
Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.
Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. "Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri." Lalu ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. "Tentu saja tidak, "jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. "Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini.
Badannya mulai merasa demam. Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya "Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu. Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku."
Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya. Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak. Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.
Sumber: Kumpulan Artikel #ukhuwah
“Suatu Kisah Menarik yang penuh hikmah tentang Pedagang Kaya dengan empat Orang Istrinya”
Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.
Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. "Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri." Lalu ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. "Tentu saja tidak, "jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. "Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini.
Badannya mulai merasa demam. Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya "Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu. Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku."
Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya. Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak. Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.
Kamis, 04 Februari 2010
MOTIVASI UNTUK TERUS BERKARYA
Ibrahim Al-Tahawi dalam kitab Al-Iqtisad Al-Islami menegaskan bahwa Al Quran menganggap kemalasan atau membuang-buang waktu, melakukan hal yang tidak produktif dan tidak bermanfaat sebagai bukti kurangnya keimanan seseorang.
Kemalasan adalah kebalikan dari kerja keras. Sedangkan kerja keras merupakan salah satu kunci dari hidup bahagia dan itu sebabnya mengapa kerja keras sangat dianjurkan dalam agama Islam (Qs.Al Ankabut 29:6)sebagai kunci sukses menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.(Qs.Al Ankabut 29:65).
Kerja keras dalam artian harfiah, yaitu bekerja sekeras mungkin, tentu saja tidak cukup. Kita melihat betapa banyak orang, seperti buruh dan kuli, yang bekerja sangat keras memeras keringat sepanjang hari tetapi mendapatkan hasil yang sangat sedikit dan tidak mengalami perubahan ekonomi secara signifikan. Kerja keras harus dibarengi dengan ilmu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dan karena itulah Allah sangat menekankan kemuliaan ilmu dan betapa pentingnya posisi ahli ilmu (QS Ali Imron 3:18; Al Mujadalah 58:11; Az Zumr 39:9).
Al Quran sendiri menyebut kata “amal” atau perbuatan dalam 360 ayat. Dan kata “fi’il” (maknanya kurang lebih sama) disebut dalam 109 ayat yang menunjukkan betapa pentingnya kerja keras. Tentu saja yang dimaksud dengan kerja keras bagi seorang pelajar adalah belajar rajin dan maksimal untuk menjadi yang terbaik. Untuk seorang pegawai baik itu PNS ataupun swasta komitmen dalam pekerjaan merupakan kunci keberhasilan kearah professional pada bidangnya.
Pada dasarnya, umat Islam adalah umat yang paling rajin bekerja keras di banding penganut agama lain dengan syarat asal kita mengikuti betul perintah Al Quran untuk selalu bekerja tanpa mengenal libur kendati itu hari Jumat (QS Al Jum’ah 62:10). Seorang muslim hanya disuruh berhenti bekerja pada saat ada panggilan adzan dikumandangkan (QS Al Jum’ah 62:9).
Suatu konsekuensi yang seharusnya dari keberadaan situasi bekerja tanpa henti ditambah dengan keilmuan yang mumpuni dari suatu pekerjaan yang dilakukan; umat Islamlah yang sepatutnya menjadi umat paling berhasil di dunia dari segi materi dan paling pandai dari segi ilmu.
Kenyataan yang ada, umat pengikut Nasrani bekerja dalam seminggu hanya enam hari saja karena hari Minggunya disepakati libur,begitu juga umat Yahudi yang hanya bekerja enam hari karena Sabtu dipakai untuk istirahat. Seharusnyalah umat Islam menjadi umat terkaya karena tidak satu haripun ada waktu libur dalam satu minggu.
Yang ada justru sebaliknya. Dimana umat agama lain, Nasrani dan Yahudi mengambil berlibur pada hari Sabtu dan Minggu dan bekerjanya hanya enam hari saja dalam seminggu, sedangkan umat Islam justru kebanyakan liburnya dari pada kerja.Kenyataan dengan keberadaan umat Islam yang berjumlah 1 milyar lebih di seluruh dunia menjadi umat termiskin di banding umat agama lain. Sedangkan umat Yahudi yang jumlahnya sekitar 15 juta di seluruh dunia menjadi umat terkaya, alasannya memang karena mereka rajin dalam bekerja.
Apabila seorang muslim mengikuti anjuran sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam tentu akan menjadi sosok pribadi yang terbaik, dan umat Islam sendiri akan menjadi umat terbaik (Qs Ali Imron 3:110).Terbaik tentu saja tidak hanya di akhirat,akan tetapi juga di dunia(Qs Al Baqarah 2:201)
Kesuksesan di dunia bisa dilihat apabila; berkepribadian akhlaqul karimah, keberhasilan secara materi, bermanfaat bagi orang banyak. Gambaran kesuksesan di akhirat hanya Allah lah yang Maha tahu.
Kemalasan adalah kebalikan dari kerja keras. Sedangkan kerja keras merupakan salah satu kunci dari hidup bahagia dan itu sebabnya mengapa kerja keras sangat dianjurkan dalam agama Islam (Qs.Al Ankabut 29:6)sebagai kunci sukses menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.(Qs.Al Ankabut 29:65).
Kerja keras dalam artian harfiah, yaitu bekerja sekeras mungkin, tentu saja tidak cukup. Kita melihat betapa banyak orang, seperti buruh dan kuli, yang bekerja sangat keras memeras keringat sepanjang hari tetapi mendapatkan hasil yang sangat sedikit dan tidak mengalami perubahan ekonomi secara signifikan. Kerja keras harus dibarengi dengan ilmu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dan karena itulah Allah sangat menekankan kemuliaan ilmu dan betapa pentingnya posisi ahli ilmu (QS Ali Imron 3:18; Al Mujadalah 58:11; Az Zumr 39:9).
Al Quran sendiri menyebut kata “amal” atau perbuatan dalam 360 ayat. Dan kata “fi’il” (maknanya kurang lebih sama) disebut dalam 109 ayat yang menunjukkan betapa pentingnya kerja keras. Tentu saja yang dimaksud dengan kerja keras bagi seorang pelajar adalah belajar rajin dan maksimal untuk menjadi yang terbaik. Untuk seorang pegawai baik itu PNS ataupun swasta komitmen dalam pekerjaan merupakan kunci keberhasilan kearah professional pada bidangnya.
Pada dasarnya, umat Islam adalah umat yang paling rajin bekerja keras di banding penganut agama lain dengan syarat asal kita mengikuti betul perintah Al Quran untuk selalu bekerja tanpa mengenal libur kendati itu hari Jumat (QS Al Jum’ah 62:10). Seorang muslim hanya disuruh berhenti bekerja pada saat ada panggilan adzan dikumandangkan (QS Al Jum’ah 62:9).
Suatu konsekuensi yang seharusnya dari keberadaan situasi bekerja tanpa henti ditambah dengan keilmuan yang mumpuni dari suatu pekerjaan yang dilakukan; umat Islamlah yang sepatutnya menjadi umat paling berhasil di dunia dari segi materi dan paling pandai dari segi ilmu.
Kenyataan yang ada, umat pengikut Nasrani bekerja dalam seminggu hanya enam hari saja karena hari Minggunya disepakati libur,begitu juga umat Yahudi yang hanya bekerja enam hari karena Sabtu dipakai untuk istirahat. Seharusnyalah umat Islam menjadi umat terkaya karena tidak satu haripun ada waktu libur dalam satu minggu.
Yang ada justru sebaliknya. Dimana umat agama lain, Nasrani dan Yahudi mengambil berlibur pada hari Sabtu dan Minggu dan bekerjanya hanya enam hari saja dalam seminggu, sedangkan umat Islam justru kebanyakan liburnya dari pada kerja.Kenyataan dengan keberadaan umat Islam yang berjumlah 1 milyar lebih di seluruh dunia menjadi umat termiskin di banding umat agama lain. Sedangkan umat Yahudi yang jumlahnya sekitar 15 juta di seluruh dunia menjadi umat terkaya, alasannya memang karena mereka rajin dalam bekerja.
Apabila seorang muslim mengikuti anjuran sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam tentu akan menjadi sosok pribadi yang terbaik, dan umat Islam sendiri akan menjadi umat terbaik (Qs Ali Imron 3:110).Terbaik tentu saja tidak hanya di akhirat,akan tetapi juga di dunia(Qs Al Baqarah 2:201)
Kesuksesan di dunia bisa dilihat apabila; berkepribadian akhlaqul karimah, keberhasilan secara materi, bermanfaat bagi orang banyak. Gambaran kesuksesan di akhirat hanya Allah lah yang Maha tahu.
Minggu, 31 Januari 2010
BERGELAR S2,S3....?
Tujuan melanjutkan jenjang pendidikan sampai mencapai gelar S2
bahkan S3,di negara
berkembang seperti Indonesia, jawaban umum
adalah meningkatkan taraf hidup, ingin hidup
kaya. Dengan gelar minimum S1, kita akan
dapat pekerjaan yang agak layak dan tidak jadi
pengangguran.
bahkan S3,di negara
berkembang seperti Indonesia, jawaban umum
adalah meningkatkan taraf hidup, ingin hidup
kaya. Dengan gelar minimum S1, kita akan
dapat pekerjaan yang agak layak dan tidak jadi
pengangguran.
Pilihan sekolah tinggi untuk tujuan kerja yang layak dan
dapat harta melimpah masih dalam tarap wajar, apalagi dalam
konteks masyarakat negara berkembang di mana
untuk mendapat sesuap nasi saja pun terkadang sulit.
dapat harta melimpah masih dalam tarap wajar, apalagi dalam
konteks masyarakat negara berkembang di mana
untuk mendapat sesuap nasi saja pun terkadang sulit.
Pola pikir semacam ini bisa dikatakan tidak baik apabila
mendominasi mindset seluruh masyarakat yang sebenarnya
beragam atau tidak monolitik. Secara nyata, dari
seluruh populasi penduduk Indonesia, tidak semuanya
berlatarbelakang miskin, ada diantaranya kalangan menengah
mendominasi mindset seluruh masyarakat yang sebenarnya
beragam atau tidak monolitik. Secara nyata, dari
seluruh populasi penduduk Indonesia, tidak semuanya
berlatarbelakang miskin, ada diantaranya kalangan menengah
yang berbackground hidup berkecukupan atau
sudah menempati posisi jabatan tinggi baik di pemerintahan
ataupun swasta yang tergolong kelas menengah.
sudah menempati posisi jabatan tinggi baik di pemerintahan
ataupun swasta yang tergolong kelas menengah.
Apabila kalangan kelas menengah ini punya pola pikir
sama dengan mereka yang hidupnya kurang beruntung
“sekolah untuk tujuan hidup kaya raya”, maka dalam jangka
panjang akan merugikan Negara kita, karena beberapa
faktor:
sama dengan mereka yang hidupnya kurang beruntung
“sekolah untuk tujuan hidup kaya raya”, maka dalam jangka
panjang akan merugikan Negara kita, karena beberapa
faktor:
Pertama, kalangan yang sudah hidup layak, baik faktor
keturunan atau sudah mendapatkan pekerjaan mapan dan
punya gaji besar, punya jabatan, menjadi malas untuk
melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi “buat apa
sekolah tinggi-tinggi, saya sudah kaya, jabatanpun sudah punya”.
Padahal kelompok inilah yang paling berpeluang untuk
melanjutkan sekolahnya setinggi mungkin (S2,S3) dalam
segi biaya.
keturunan atau sudah mendapatkan pekerjaan mapan dan
punya gaji besar, punya jabatan, menjadi malas untuk
melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi “buat apa
sekolah tinggi-tinggi, saya sudah kaya, jabatanpun sudah punya”.
Padahal kelompok inilah yang paling berpeluang untuk
melanjutkan sekolahnya setinggi mungkin (S2,S3) dalam
segi biaya.
Kedua, Negara kita akan kekurangan sumber daya
manusia yang handal yang sebenarnya akan dapat ditutupi apabila
kalangan menengah tadi mau terus menuntut Ilmu.
Ironis, banyak kalangan tak beruntung yang ingin
mencapai gelar tinggi tersebut tapi terhalang biaya.
manusia yang handal yang sebenarnya akan dapat ditutupi apabila
kalangan menengah tadi mau terus menuntut Ilmu.
Ironis, banyak kalangan tak beruntung yang ingin
mencapai gelar tinggi tersebut tapi terhalang biaya.
Ketiga, tidak bisa dihindari akan terjadi ketidakefektifan sistem kerja.
Kalangan pejabat yg kebanyakan lulusan S1 ini apabila
membutuhkan tenaga ahli, maka mereka pasti akan
mengangkat staf ahli yakni kalangan lulusan S3 yg
nantinya digaji juga oleh negara: mengapa tidak sekalian
sang tenaga ahli itu yg menjabat dengan begitu tentunya akan lebih efesien
Kalangan pejabat yg kebanyakan lulusan S1 ini apabila
membutuhkan tenaga ahli, maka mereka pasti akan
mengangkat staf ahli yakni kalangan lulusan S3 yg
nantinya digaji juga oleh negara: mengapa tidak sekalian
sang tenaga ahli itu yg menjabat dengan begitu tentunya akan lebih efesien
Keempat, secara psiko-sosial, kalangan pejabat yg
berpendidikan kurang tinggi umumnya kepeduliannya pada
dunia pendidikan juga kurang (bisa karena cemburu
sosial atau memang tidak peduli). Yg paling sinis akan
mengatakan:
berpendidikan kurang tinggi umumnya kepeduliannya pada
dunia pendidikan juga kurang (bisa karena cemburu
sosial atau memang tidak peduli). Yg paling sinis akan
mengatakan:
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi, saya cuma S1 tapi
bisa hidup layak.” (ini mindset orang kaya kampungan)
“Buat apa titel DR, saya yg S1 bisa memerintah
mereka.” (ini yg gila jabatan)
bisa hidup layak.” (ini mindset orang kaya kampungan)
“Buat apa titel DR, saya yg S1 bisa memerintah
mereka.” (ini yg gila jabatan)
Selain itu, berbagai kebijakan mereka nantinya (dan
sudah sering terjadi di era sekarang maupun dulu)
terkesan tidak cinta pendidikan dan orang yg
berpendidikan, tentu dg berbagai alasan yg tak perlu
dibahas di sini.
sudah sering terjadi di era sekarang maupun dulu)
terkesan tidak cinta pendidikan dan orang yg
berpendidikan, tentu dg berbagai alasan yg tak perlu
dibahas di sini.
Fenomena di negara maju tentu saja berbeda. Dan itulah
salah satu sebabnya mengapa negara mereka menjadi
negara maju. Sebagai perbandingan, setiap satu juta
penduduk di Amerika memiliki 5000 orang yg bergelar
Ph.D sedang di Indonesia dari setiap satu juta
penduduk, hanya 600 orang yg bergelar Ph.D.
salah satu sebabnya mengapa negara mereka menjadi
negara maju. Sebagai perbandingan, setiap satu juta
penduduk di Amerika memiliki 5000 orang yg bergelar
Ph.D sedang di Indonesia dari setiap satu juta
penduduk, hanya 600 orang yg bergelar Ph.D.
Karena studi bukan hanya bertujuan untuk mencari
harta, popularitas atau kedudukan saja, juga bukan
karena sekedar kewajiban akademis untuk peningkatan
status kepegawaian, dll.
harta, popularitas atau kedudukan saja, juga bukan
karena sekedar kewajiban akademis untuk peningkatan
status kepegawaian, dll.
Studi tinggi adalah simbol kepakaran (walau tak semua
Ph.D pantas disebut pakar). Ia juga simbol dari
“sampai di finish line”: seorang pantas disebut
bermental juara apabila dia mencapai finish line
(walau tidak harus menang dalam kompetisi itu). Ia
mewakili sebuah ambisi untuk terus maju demi kualitas
diri dan kualitas bangsanya.
Ph.D pantas disebut pakar). Ia juga simbol dari
“sampai di finish line”: seorang pantas disebut
bermental juara apabila dia mencapai finish line
(walau tidak harus menang dalam kompetisi itu). Ia
mewakili sebuah ambisi untuk terus maju demi kualitas
diri dan kualitas bangsanya.
Kebijakan yg “educational and educated-people
friendly” juga menguatkan asumsi di atas: bahwa
untuk mencintai dunia pendidikan dan menyayangi semua
hal yg berkaitan dg pendidikan tidak bisa dilakukan
oleh orang yg pendidikannya rendah. Banyak kasus di
Indonesia, seperti kebijakan pemerintah yg tak
“educational friendly”; sikap pejabat yg terkesan
sekedar “bermanis muka” terhadap mahasiswa semakin
memperkuat statemen di atas.
friendly” juga menguatkan asumsi di atas: bahwa
untuk mencintai dunia pendidikan dan menyayangi semua
hal yg berkaitan dg pendidikan tidak bisa dilakukan
oleh orang yg pendidikannya rendah. Banyak kasus di
Indonesia, seperti kebijakan pemerintah yg tak
“educational friendly”; sikap pejabat yg terkesan
sekedar “bermanis muka” terhadap mahasiswa semakin
memperkuat statemen di atas.
Indonesia membutuhkan orang-orang seperti Larry Page
dan Sergey Brin (contoh kepakaran di dunia Internet}
dan Sergey Brin (contoh kepakaran di dunia Internet}
utk menduduki berbagai posisi penting di
pemerintahan. And we need it very badly, to make our
country much better than it’s actually been.
pemerintahan. And we need it very badly, to make our
country much better than it’s actually been.
Presiden SBY telah memberi contoh bagus dg tetap
kuliah sampai mencapai gelar Ph.D di tengah-tengah
kesibukannya bekerja. Di Negara tetangga India, peluang itu lebih
besar lagi. Hampir setiap universitas negeri disana
memiliki program “non-regular” bagi mereka yg sudah
disibukkan rutinitas pekerjaan tapi masih ingin
melanjutkan studi. Bagi diplomat yg rata-rata bertugas
sekitar tiga tahun, ini kesempatan luas untuk
mengambil program S2 yg hanya dua tahun, atau S3 yg
dapat ditempuh dalam tiga tahun. Apalagi untuk
kalangan staf lokal.
kuliah sampai mencapai gelar Ph.D di tengah-tengah
kesibukannya bekerja. Di Negara tetangga India, peluang itu lebih
besar lagi. Hampir setiap universitas negeri disana
memiliki program “non-regular” bagi mereka yg sudah
disibukkan rutinitas pekerjaan tapi masih ingin
melanjutkan studi. Bagi diplomat yg rata-rata bertugas
sekitar tiga tahun, ini kesempatan luas untuk
mengambil program S2 yg hanya dua tahun, atau S3 yg
dapat ditempuh dalam tiga tahun. Apalagi untuk
kalangan staf lokal.
Untuk apa, saya ‘kan sudah tua! - Untuk menambah
daftar insan bergelar S3,Ph.D; - Untuk menambah wawasan
dan semakin cinta dunia pendidikan; - Untuk memberi
contoh pada generasi berikutnya (termasuk anak-anak
sendiri) bahwa betapa pentingnya studi sampai tingkat
tertinggi, “Bapak saja yg sudah tua masih belajar,
kenapa kalian yg masih muda-muda kok malas-malasan?”
daftar insan bergelar S3,Ph.D; - Untuk menambah wawasan
dan semakin cinta dunia pendidikan; - Untuk memberi
contoh pada generasi berikutnya (termasuk anak-anak
sendiri) bahwa betapa pentingnya studi sampai tingkat
tertinggi, “Bapak saja yg sudah tua masih belajar,
kenapa kalian yg masih muda-muda kok malas-malasan?”
Bagi rekan-rekan muda, jangan pernah mimpi hidup
sukses di masa depan hanya dg bermalas-malasan. Tidak
ada keberhasilan yg dicapai dg hanya mimpi di siang
bolong (karena malemnya habis begadang).***
sukses di masa depan hanya dg bermalas-malasan. Tidak
ada keberhasilan yg dicapai dg hanya mimpi di siang
bolong (karena malemnya habis begadang).***
fatihsyuhud
Sabtu, 23 Januari 2010
Peluang Pendidikan Dan Korupsi
Di tengah ramainya pesta korupsi bernilai triliunan rupiah
kita melihat fenomena ironis dari jumlah penduduk
miskin Indonesia ; sumber resmi pada tahun 2004 saja tumbuh pesat menjadi 37 juta jiwa (Suara Pembaruan, 29/1/05)
dari yang sebelumnya 36.2 juta jiwa, 16.6
persen dari total penduduk Indonesia.
Dalam konteks sosio-politik, fenomena paradoks ini
tidak mengherankan. Setiap negara dengan level Korupsi Kolusi dan Nepotismenya sangat tinggi
selalu dibarengi dengan gap kaya-miskin yang tinggi pula
seiring lemahnya peningkatan rasio ekonomi. Begitu juga
suatu negara dengan level Korupsi Kolusi dan Nepotismenya rendah, gap kaya-miskin
rendah. Realitas di negara-negara maju
dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
konsisten. Ini bukan berarti tidak ada orang miskin umpamanya di negara
Amerika Serikat. Akan tetapi pembagian kue
ekonomi relatif merata. Artinya meningkatnya
kekayaan kalangan ‘the have’ selalu dibarengi dengan
peningkatan penghasilan ‘the have-not’. Sehingga,
kaum buruh kasar sekalipun di negara tersebut dapat menabung
untuk membeli mobil bahkan berlibur ke luar negeri di
musim vakansi.
Danarto ( 4/2/05 Media Indonesia) Krisis
multidimensi sejak 1997 sampai 2004 saja telah melenyapkan
kekayaan negara sekitar 900 triliun rupiah (ini sama
dengan 3 x lipat ABPN kita). Jumlah riil yang langsung diderita
negara. Ini bukan korupsi yg disebabkan oleh sogokan
atau uang pelicin yang dikenakan pihak birokrat/PNS
kepada rakyat/pihak swasta untuk berbagai keperluan
layanan; dari layanan kecil seperti pengurusan KTP,
legalisir ijazah, sampai yang besar seperti layanan
perijinan usaha, tender kontrak, dan sebagainya.
Seperti kita ketahui Korupsi dapat dikelompokkan kedalam dua tipe, pertama
penyalahgunaan dana anggaran untuk keperluan yang tidak
semestinya atau mark-up dari kebutuhan riil. Kedua
penarikan upeti pada rakyat yang membutuhkan layanan
atau bantuan. Kedua modus korupsi ini sudah sangat
merata di Indonesia. Tak heran lembaga pengamat
korupsi Transparency International memposisikan
Indonesia dalam kelompok Top Ten negara paling korup
di dunia. “Prestasi” yang semestinya membuat kita
malu.
Malu bukan hanya karena kita menjadi bangsa paroki,
tak beradab di mata dunia global, tapi juga karena di
tengah kenyataan pahit ini kita masih merasa bangga.
Di sekolah,kampus, dan di setiap pidato
pejabat/birokrat, kita masih mendengar nyanyian merdu
yang paradoks: bahwa kita adalah bangsa yg relijius,
bangsa yg besar dan beradab, bangsa yg tahu sopan
santun, negara adil makmur, gemah ripah loh jinawi, dan seterusnya
Kita mesti malu dengan kenyataan di atas itu karena
salah satu persyaratan mutlak sebuah bangsa besar yang ingin
maju haruslah memahami betul kekurangan dan
kelebihannya. Berusaha memperbaiki kekurangan,
menghilangkan penyakit dan gejalanya, dan melestarikan
kelebihan serta meningkatkan potensi yang ada. Sense of
urgency, sense of anxiety dan sense of curiosity serta
sense of resiliency jelas faktor-faktor yg diperlukan
dimiliki oleh setiap individu bangsa: birokrat maupun
rakyatnya.
Dalam perspektif manajemen, meratanya korupsi di
negara-negara berkembang seperti Indonesia ditimbulkan
oleh lemah dan tidak solidnya sistem manajerial;
terlalu banyaknya black-hole dalam undang-undang (UU)
dan peraturan pemerintah (PP), dll. yang membuat korupsi
menjadi begitu kondusif. Sekali korupsi itu dilakukan
oleh seorang birokrat, maka ia akan memiliki efek
domino: birokrat lain akan beramai-ramai melakukannya.
Dan itulah yang terjadi di negara kita. Setiap koruptor
akan selalu berusaha untuk “menularkan” dan membagikan
rejeki haramnya pada yang lain untuk alasan keamanan,
dan begitu seterusnya. Sehingga kaki-kaki korupsi
menjadi begitu menggurita dalam tubuh birokrasi.
Karena meratanya KKN, maka kalangan kecil yang “bersih”
pun menjadi parokial dan marjinal serta terisolasi:
sebuah paradoks ironis yang lain, di mana penjahat
menjadi “hero” dan hero menjadi penjahat dalam drama
realitas hidup birokrasi Indonesia.
Dalam konteks psiko-sosial, hobi korupsi disebabkan
oleh banyak hal: reposisi kemiskinan yang berakibat pada
ketamakan luar biasa, pandangan martabat diri
artifisial (tidak hakiki) yang didasari oleh pola pikir
materialistik, dll. Yang pada gilirannya mengarah pada
ketakpedulian atas akibat perbuatan terkutuknya pada
nasib negara, bangsa dan individu rakyat secara
keseluruhan.
Tidak ada obat mujarab yang akan membuat KKN di
Indonesia lenyap dalam waktu singkat. Setidaknya
selama orang-orang yang sama masih duduk tenang dan
berkuasa. Namun, satu hal yang mesti diingat buat para
koruptor –kelas teri atau kakap– yang membaca tulisan
ini: bahwa setiap rupiah yang Anda korupsi telah membuat
generasi muda semakin jauh pada akses pendidikan dan
kesejahteraan. Dan dengan demikian, semakin jauh pula
prospek negara dan bangsa Kita menjadi maju dan
berjaya sejajar dengan negara-negara lain. Dengan kata lain,
semakin besar kemungkinan kita menjadi bangsa pengemis
yang selalu menggantungkan segalanya pada bantuan negara
lain.
Retorika indah tapi paradoks dan ironis oleh siapapun
bukan hanya tidak diperlukan, tapi juga akan semakin
menenggelamkan kondisi terpuruk bangsa ini.
kita melihat fenomena ironis dari jumlah penduduk
miskin Indonesia ; sumber resmi pada tahun 2004 saja tumbuh pesat menjadi 37 juta jiwa (Suara Pembaruan, 29/1/05)
dari yang sebelumnya 36.2 juta jiwa, 16.6
persen dari total penduduk Indonesia.
Dalam konteks sosio-politik, fenomena paradoks ini
tidak mengherankan. Setiap negara dengan level Korupsi Kolusi dan Nepotismenya sangat tinggi
selalu dibarengi dengan gap kaya-miskin yang tinggi pula
seiring lemahnya peningkatan rasio ekonomi. Begitu juga
suatu negara dengan level Korupsi Kolusi dan Nepotismenya rendah, gap kaya-miskin
rendah. Realitas di negara-negara maju
dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
konsisten. Ini bukan berarti tidak ada orang miskin umpamanya di negara
Amerika Serikat. Akan tetapi pembagian kue
ekonomi relatif merata. Artinya meningkatnya
kekayaan kalangan ‘the have’ selalu dibarengi dengan
peningkatan penghasilan ‘the have-not’. Sehingga,
kaum buruh kasar sekalipun di negara tersebut dapat menabung
untuk membeli mobil bahkan berlibur ke luar negeri di
musim vakansi.
Danarto ( 4/2/05 Media Indonesia) Krisis
multidimensi sejak 1997 sampai 2004 saja telah melenyapkan
kekayaan negara sekitar 900 triliun rupiah (ini sama
dengan 3 x lipat ABPN kita). Jumlah riil yang langsung diderita
negara. Ini bukan korupsi yg disebabkan oleh sogokan
atau uang pelicin yang dikenakan pihak birokrat/PNS
kepada rakyat/pihak swasta untuk berbagai keperluan
layanan; dari layanan kecil seperti pengurusan KTP,
legalisir ijazah, sampai yang besar seperti layanan
perijinan usaha, tender kontrak, dan sebagainya.
Seperti kita ketahui Korupsi dapat dikelompokkan kedalam dua tipe, pertama
penyalahgunaan dana anggaran untuk keperluan yang tidak
semestinya atau mark-up dari kebutuhan riil. Kedua
penarikan upeti pada rakyat yang membutuhkan layanan
atau bantuan. Kedua modus korupsi ini sudah sangat
merata di Indonesia. Tak heran lembaga pengamat
korupsi Transparency International memposisikan
Indonesia dalam kelompok Top Ten negara paling korup
di dunia. “Prestasi” yang semestinya membuat kita
malu.
Malu bukan hanya karena kita menjadi bangsa paroki,
tak beradab di mata dunia global, tapi juga karena di
tengah kenyataan pahit ini kita masih merasa bangga.
Di sekolah,kampus, dan di setiap pidato
pejabat/birokrat, kita masih mendengar nyanyian merdu
yang paradoks: bahwa kita adalah bangsa yg relijius,
bangsa yg besar dan beradab, bangsa yg tahu sopan
santun, negara adil makmur, gemah ripah loh jinawi, dan seterusnya
Kita mesti malu dengan kenyataan di atas itu karena
salah satu persyaratan mutlak sebuah bangsa besar yang ingin
maju haruslah memahami betul kekurangan dan
kelebihannya. Berusaha memperbaiki kekurangan,
menghilangkan penyakit dan gejalanya, dan melestarikan
kelebihan serta meningkatkan potensi yang ada. Sense of
urgency, sense of anxiety dan sense of curiosity serta
sense of resiliency jelas faktor-faktor yg diperlukan
dimiliki oleh setiap individu bangsa: birokrat maupun
rakyatnya.
Dalam perspektif manajemen, meratanya korupsi di
negara-negara berkembang seperti Indonesia ditimbulkan
oleh lemah dan tidak solidnya sistem manajerial;
terlalu banyaknya black-hole dalam undang-undang (UU)
dan peraturan pemerintah (PP), dll. yang membuat korupsi
menjadi begitu kondusif. Sekali korupsi itu dilakukan
oleh seorang birokrat, maka ia akan memiliki efek
domino: birokrat lain akan beramai-ramai melakukannya.
Dan itulah yang terjadi di negara kita. Setiap koruptor
akan selalu berusaha untuk “menularkan” dan membagikan
rejeki haramnya pada yang lain untuk alasan keamanan,
dan begitu seterusnya. Sehingga kaki-kaki korupsi
menjadi begitu menggurita dalam tubuh birokrasi.
Karena meratanya KKN, maka kalangan kecil yang “bersih”
pun menjadi parokial dan marjinal serta terisolasi:
sebuah paradoks ironis yang lain, di mana penjahat
menjadi “hero” dan hero menjadi penjahat dalam drama
realitas hidup birokrasi Indonesia.
Dalam konteks psiko-sosial, hobi korupsi disebabkan
oleh banyak hal: reposisi kemiskinan yang berakibat pada
ketamakan luar biasa, pandangan martabat diri
artifisial (tidak hakiki) yang didasari oleh pola pikir
materialistik, dll. Yang pada gilirannya mengarah pada
ketakpedulian atas akibat perbuatan terkutuknya pada
nasib negara, bangsa dan individu rakyat secara
keseluruhan.
Tidak ada obat mujarab yang akan membuat KKN di
Indonesia lenyap dalam waktu singkat. Setidaknya
selama orang-orang yang sama masih duduk tenang dan
berkuasa. Namun, satu hal yang mesti diingat buat para
koruptor –kelas teri atau kakap– yang membaca tulisan
ini: bahwa setiap rupiah yang Anda korupsi telah membuat
generasi muda semakin jauh pada akses pendidikan dan
kesejahteraan. Dan dengan demikian, semakin jauh pula
prospek negara dan bangsa Kita menjadi maju dan
berjaya sejajar dengan negara-negara lain. Dengan kata lain,
semakin besar kemungkinan kita menjadi bangsa pengemis
yang selalu menggantungkan segalanya pada bantuan negara
lain.
Retorika indah tapi paradoks dan ironis oleh siapapun
bukan hanya tidak diperlukan, tapi juga akan semakin
menenggelamkan kondisi terpuruk bangsa ini.
Kamis, 21 Januari 2010
Selamat Datang Di Blog Saya
Blog ini saya buat untuk keperluar pribadi, bertujuan menambah wawasan seputar dunia blog khususnya, global dunia internet pada umumnya. Bila rekan netter yang sudah profesional atau pemula sekalipun, agar tidak segan-segan mengomentari Blog ini dengan harapan semata-mata untuk bertambahnya wawasan dunia maya. Sekecil apapun kebaikan yang diinformasikan dengan senang hati akan saya perhatikan. Salam
Langganan:
Postingan (Atom)